" aku belajar dari tanah yang menyerap tiap titik hujan bahwa setiap yang jatuh butuh tangkapan bukan dibiarkan berserakan"
Monday, 30 September 2013
Sunday, 29 September 2013
I'm fine
12 maret 2013
Setiap orang pasti pernah
mencintai diam-diam akupun . Cuma kita kadang lebih nyaman mencintai diam-diam
, sebab dengan cara terang-terangan saja belum tentu mereka peduli :’)
***
aku pernah melihatnya menangis seusai magrib , dan seketika hatiku di penuhi dengan kesedihan. aku menghela nafas panjang , berusaha menyembunyikan perasaanku saat itu.
aku pernah melihatnya menangis seusai magrib , dan seketika hatiku di penuhi dengan kesedihan. aku menghela nafas panjang , berusaha menyembunyikan perasaanku saat itu.
“maaf” katanya ketika ia mulai
membaik dari sebelumnya.
“untuk apa”
“aku tau hatimu terluka banyak
karena aku”
Aku diam .Kamu tidak pernah membuatku
terluka , justru aku yang melukai hatiku dengan mempertahankanmu-yang tidak
mencintaiku. Pendamku dalam hati .
“kau kecewa karena aku tidak peka
?”
“tidak” kataku berbohong . aku
selalu kecewa karena apapun itu , apapun segala bentuk kepeduliaanku sama
sekali tidak pernah kau lihat . “tanpa harus minta maaf , aku sudah
memaafkanmu” sambungku tanpa sekalipun menengok ke arahnya.
“ aku tau , pasti sulit memendam
perasaanmu selama ini”
“tidak” jawabku cepat tapi berhasil membuat air mataku
hampir jatuh . aku berusaha menguatkan hatiku agar tidak kelihatan
menyedihkan-di depannya. Aku tidak ingin orang yang begitu kucintai turut
merasakan kesedihan yang ku rasakan.
“ bagaimana rasanya jatuh cinta diam-diam”
Aku tersentak . “ kenapa pertanyaanmu seperti itu”
“sudahlah jawab saja” tegasnya
Aku pernah menonton sebuah film yang pesannya bilang ,
bahwa jika kamu mencintai seseorang maka kamu harus mengatakannya begitu moment
itu datang , karena kalau tidak maka moment itu akan pergi begitu saja dan
tidak pernah akan datang lagi, lalu kamu akan menyesal.
Tapi rasanya percuma mengatakan apapun yang kurasakan , itu
sama sekali tidak akan membuatnya sadar kemudian mencintaiku kan? Dan ku pikir tidak
perlu orang yang kita cintai ikut merasakan sakit yang kita rasakan .akupun
juga benci di kasihani . sebab rasanya sulit sekali membedakan antara
“dicintai” dan “dikasihani”. Dan dikasihani itu menyakitkan.
Bukan hanya 1 tanda tanya yang mengitari otakku detik
ini, tapi ada banyak .
Kenapa tiba-tiba kau mengajakku keluar dan membicarakan hal
ini ?
Kenapa tiba-tiba kau menanyakan tentang perasaanku yang dulu
tidak ingin kau ketahui?
Kenapa tiba-tiba datang dan membuat persaanku sekacau ini ?
Aku sudah berusaha untuk bersikap baik-baik saja ,meski
salah seorang temanku pernah bilang Kamu tidak perlu
menunjukkan bahwa dirimu baik-baik saja, pada seseorang yang bahkan tidak
menyadari bahwa kamu telah terluka banyak untuknya . tapi aku bukan
orang yang pandai menampakkan perasan di depan orang yang kucintai , apalagi
untuk mengatakannya .
“kenapa diam saja” katanya menatapku.
“kenapa diam saja” katanya menatapku.
“apa perlu kujawab?”
“iya”
“kurasa kau sudah tau , jawabannya apa”
“ tidak,katakanlah aku ingin mendengarnya”
aku tidak tau lagi apa yang harus ku katakan sebab
mencintai diam-diam itu rasanya kacaubalau , kau akan merasakan sesak
seakan-akan ia akan menghentikan nafasmu , juga merasakan rindu sepihak yang
begitu menyiksa dan tak akan memberimu ampun , pertanyaan yang mengarwah
dipikiranmu dan membuatmu susah tidur.
apa penjelasanku begitu
berlebihan? . tapi aku tidak mengatakan hal ini kepadanya ,aku hanya bilang
“mencintai diam-diam itu rasanya menyenangkan sekaligus sakit sekali – sakit
yang tetap ingin kita nikmati setiap hari” kataku tersenyum , sedangkan sudut mataku
mulai di genangi airmata yang sejak tadi kutahan agar tidak jatuh
aku kembali menarik nafas panjang
, ia menatapku senduh , seakan-akan memintaku untuk mengatakan semuanya dan
tidak lagi memendam . kami diam sepersekian detik.
“jangan menatapku seperti itu”
kataku memalingkan wajahku .
“kenapa?”
“karena aku takut persaanku akan
semakin dalam ketika melihatmu , aku takut jantungku tidak bisa menahan debaran
rasa yang tercipta kerena kamu”lirihku dalam hati. itu yang kutakutkan, terlalu
mencintaimu hingga membuatku susah lupa .
“apa kau menyukai seseorang ?”
kataku pelan tapi membuatnya terkejut.
“kurasa aku tak perlu menjawab
pertanyaanmu”
“kenapa?”
“sejak tadi kau juga tidak
menjawab pertanyaanku” katanya santai.
“kadang aku merasa iri dengan
teman-temanmu yang setiap saat bisa menjadi penyebab tawamu , pun selalu ada
saat kamu butuh ,tidak seperti aku yang kerap hanya menatapmu dari kejauhan
tanpa bisa melakukan apa-apa”
Ia menunduk ,
“sebenarnya kau juga bisa seperti mereka jika kau mau”
Jika kau memberikanku sepersekian
menit untuk berbicara seperti ini setiapkali bertemu denganmu, mungkin aku akan terbiasa , tapi rasanya teman-temanmu
saja sudah cukup membuatmu bahagia , aku (mungkin) tidak perlu ada di
sekitarmu , sama seperti aku yang tidak pernah ada dihatimu .
***
Waktu kurang begitu bersahabat ,
ia berputar lambat ketika aku menunggu . dan berputar cepat ketika aku merasa
bahagia.
Ini pertamakalinya ia
memboncengku , aku bisa merasakan aroma punggungnya begitu dekat . tiba-tiba
ada kesedihan yang membuatku diam begitu lama , takut hari ini tidak akan
terulang lagi besok .
Ada banyak hal yang sebenarnya
ingin kukatakan , tapi ketika menatapnya seluruh kosakata di otakku hilang dan
lagi-lagi aku memendam .
“kau mau kan mengaggapku teman?”
katanya mengulurkan tangannya.
Aku sudah tau dari awal , kau hanya menganggapku teman .
“kenapa ? kau tidak bisa? Jika
kita berjodoh , kita akan di pertemukan lagi suatu hari nanti”
“Berjodoh ? kenapa tiba-tiba
kau membahas tentang jodoh . bukankah seorang pria bebas memilih pasangan
hidupnya? Mereka bahkan bisa memilih dari sekarang wanita mana yang akan kelak
dinikahinya . jika kau juga mencintaiku , kelak kau yang akan mencariku , bukan
menunggu waktu yang akan mempertemukan kita. Entahlah kata-katamu itu
membuatku semakin yakin dari awal aku memang tidak punya tempat di hatimu :’),
dan kelak bisa jadi bukan tujuanmu" pendamku..
“Hei ? kau mau kan
menganggapku teman?” ulangnya , masih mengulurkan tanganya.
Aku membalas uluran tangannya sebagai
tanda aku menerima pertemannya,kemudian tersenyum dan melihatnya pergi , betapa
aku sangat menyayanginya , aku bahkan tidak ingin membebani pikirannya dengan
hal-hal yang kurasakan sekarang . aku ingin dia pulang dengan tenang tanpa rasa
kasihan .
Aku berjalan masuk ke rumah ,
tidak lagi menoleh kebelakang , meski seharusnya aku menyesal, meski seharusnya
ada kalimat yang terucap
“aku
menyayangimu, dan tidak ingin meihatmu pergi”
Subscribe to:
Posts (Atom)

