Untuk seseorang yang masih saya sayangi dan pernah saya paksakan untuk
tidak lagi saya sayangi lebih dari rasa sayang saya kepada seorang teman, saya
pernah menangisinya karena memaksakan diri untuk berhenti –ingin mengetahui
kabarnya-yang ketika itu tidak bisa saya pastikan sampai kapan . mungkin karena
saya begitu marah. Bukan padanya , tapi saya begitu marah pada diri saya
sendiri.
Saya selalu saja patah hati dengan cara saya . saya tahu saya masih
punya Tuhan , saya tahu Dia sanggup menerima keluhan apapun dari
saya,setidaknya 5 waktu dalam sehari .persoalan saya : saya ‘terlalu’
menyayanginya dan saya harus berhenti ‘terlalu’ menyayanginya , walau
kenyataannya hal itu bukanlah sekedar sebuah ‘hanya’
Dan kecewa padanya ,bukan berarti lantas saya harus menghapusnya dari
hidup saya , saya tidak se-kanak-kanakan itu , saya hanya perlu mengubah porsi
rasa sayang saya padanya, dari kadar sangat menjadi cukup. Dan jalas saja , itu
bukanlah hal yang sederhana.
Saya juga bukan tipikal orang pembenci , tapi saya adalah perempuan
yang tidak pernah lupa bila pernah dilupakan dan diabaikan oleh seseorang.
Dan mungkin salah satu bagian menyakitkan dalam hidup saya adalah
ketika saya berusaha mencoba memahami dan menyanginya-di tengah saya tahu, dia
tidak menyayangi saya sebesar saya menyayanginya , ketika saya memandang
kearahnya dan dia justru balik memandang yang lain , ketika dia membuat saya
‘teramat menyayanginya’ –lalu pergi.
Seandainya saja , saya bisa menggambarkan seberapa hancurnya perasaan
saya menjadi seorang faa detik itu . saya, saya hanyalah tidak pernah punya
kemampuan untuk menunjukkan luka saya sendiri. Saya takut Tuhan berpikir saya
tidak cukup bersyukur atas apa yang saya miliki saat ini . dan Dia pun
mengambil kebahagian-kebahagian lain yang tersisa, yang masih saya miliki
Tidak perlu mengasihani saya, saat ini saya sedang sehat , dan
sedang berusaha menggembirakan hati dengan hidup yang saya jalani, dengan
hati-hati yang mengelilingi saya walaupun saya belum siap untuk menyayangi
seseorang sebanyak saya menyayangimu .

No comments:
Post a Comment